Jepang, Kawan ataukah Lawan ?
Oleh: Dimas Ari Kurniawan Perdana*
Negara Jepang memang sudah tidak diragukan lagi merupakan salah satu negara termakmur dan terkuat dalam segala bidang di benua Asia bahkan terkenal hingga keseluruh dunia, sehingga mendapatkan julukan “Macan Asia”.
Tapi permasalahan disini adalah, dari mana saja pendapatan yang didapatkan oleh Negara Jepang untuk mendapatkan kemakmuran dan kekuatan tersebut, megingat negara Jepang memiliki alam yang kurang baik untuk bertani dan berkebun, serta luas negaranya yang tidak begitu besar. Mungkin salah satu jawabannya dapat kita cari dengan cara menanyakan pada seluruh orang di Indonesia mengenai pengetahuan mereka tentang bangsa Jepang di zaman dahulu, saat Perang Dunia II Jepang melakukan penjajahan, penindasan, kerja pakasa (romusha), dan sebagainya yang berhubungan dengan kesengsaraan di berbagai negara termasuk negara Indonesia.
Tapi, apakah hanya itu pengaruh jepang di Indonesia?
Apakah hanya cerita mengenai penjajahan, penindasan dan segala macam perlakuan – pelakuan yang menyengsarakan dan menyiksa bangsa Indonesia? Dan ternyata jawabannya adalah TIDAK. Itu hanyalah masa lalu, masa dimana Indonesia masih belum merdeka, zaman dimana hanya peranglah yang dapat dilakukan untuk menunjukkan kekuatan suatu negara kepada negara lain, saat dimana hanya menjajahlah yang dapat dilakukan untuk memperkaya diri. Jika kita mengingat sedikit ke belakang sekitar 64 – 67 tahun yang lalu, dimana pada saat itu Jepang mulai menjajah bangsa Indonesia selama 3,5 tahun yaitu sejak tahun 1942 hingga pertengahan tahun 1945. Sejak saat itulah bangsa Jepang mulai banyak meninggalkan kenangan buruk dan pahit bagi seluruh rakyat Indonesia, tidak hanya moral, materiil, dan kekayaan alam yang dikuras habis oleh bangsa Jepang, tetapi jiwa raga pun telah banyak yang hilang akibat penjajahan Jepang di Indonesia.
Tetapi itu semua hanyalah masa lalu, berbeda dengan zaman sekarang, sekarang adalah masa damai. Masa dimana Indonesia sudah merdeka, zaman dimana bukan peranglah yang dapat dilakukan untuk menunjukkan kekuatan suatu negara ke negara lain. Saat menjajah adalah sesuatu yang sangat dilarang oleh seluruh negara dan bukan satu – satunya cara untuk memperkaya diri. Saat ini kemajuan teknologi dan kemampuan sumber daya manusia (SDM) dari suatu negaralah yang dapat digunakan untuk menunjukkan kekuatan dan kehebatan suatu negara kepada negara lain. Dan dalam bidang kemajuan teknologi dan SDM, bangsa Indonesia sangatlah tertinggal jauh bila dibandingkan dengan kemajuan teknologi dan kemampun sumber daya manusia di negara Jepang. Untuk mengimbangi serta mengembangkan kemajuan teknologi dan kemampuan sumber daya manusia di Indonesia, maka bangsa Indonesia dan bangsa Jepang menjalin hubungan diplomatis bilateral dalam berbagai macam bidang.
Dalam hal hubungan diplomatis bilateral ini, Jepang bagi bangsa Indonesia seperti sesosok guru yang mengajarkan banyak hal untuk kemajuan bangsa Indonesia dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Peran ini dapat diperlihatkan dengan banyaknya investor – investor asing terutama dari negeri sakura tersebut yang banyak mendirikan pabrik – pabrik dan perusahaan di bumi Indonesia ini yang bergerak di berbagai macam bidang, seperti perusahaan dan pabrik – pabrik yang menghasilkan barang – barang mulai dari kebutuhan alat – alat rumah tangga, elektronik, dan otomotif, serta dalam bidang makanan dan minuman. Dengan banyak dibukanya lapangan kerja dari perusahaan dan pabrik yang berasal dari para investor asing, terutama investor Jepang, maka kegiatan ini sedikit banyak dapat membantu rakyat Indonesia untuk mendapatkan kesempatan kerja yang layak sehingga dapat memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Sehingga ini dapat menguntungkan bangsa Jepang yang banyak mendirikan perusahaan di Indonesia. Berdasarkan penelitian jumlah perusaahn Jepang yang beroperasi di Indonesia lebih dari 1000 buah perusahaan, dan perusahaan otomotif lah yang mendominasi berdirinya perusahaan Jepang di Indonesia. Sudah sangat lama sekali bangsa Jepang mendirikan perusahaan di Indonesia hingga sudah menjadi komoditi utama bagi bangsa Jepang
Lalu hingga pada akhirnya, pada tanggal 20 Agustus 2007 Perdana Menteri Jepang, Shinzo Abe, yang datang langsung Indonesia, untuk menemui Presiden Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono. Untuk menandatangani kesepakatan kemitraan ekonomi Indonesia-Jepang (Indonesia Japan Economic Partnership Agreement / IJEPA) oleh kedua Negara. IJ-EPA merupakan suatu bentuk kerjasama antara Indonesia dengan Jepang yang bergerak di bidang perdagangan dan industri. Dan IJEPA merupakan sebuah bentuk strategi keamanan energi Jepang, terutama untuk gas alam dan batubara, agar terus mendapatkan pemasukan dari Indonesia. Adapun Kairetsu atau dalam bahasa Indonesia disebut Persekutuan adalah persekutuan perusahaan – perusahaan dari bangsa Jepang yang banyak mengambil alih perusahaan milik Indonesia, walaupun banyak menuai pro-kontra dalam permasalahan selanjutnya dalam hal kepemilikan saham atas perusahaan – perusahaan milik Indonesia, tetapi Kairetsu tetap dijalankan oleh pemerintah Jepang di Indonesia.
Bila membandingkan data diatas dan dengan melihat banyaknya produk unggulan milik Indonesia yang di jual di pasar Jepang pada tahun 2006 yang antara lain dalam hal pertanian, perikanan dan perkebunan yang bernilai US$919 juta, alas kaki US$118 juta, kayu dan produk olahannya yang berasal dari hutan yang besarnya sekitar US$1,17 miliar, karet US$971, plastik US$380 juta, nikel dan produknya US$1,30 miliar, aluminium dan produknya US$449 juta, dan furnitur US$5,5 miliar. (sumber: www.KapanLagi.com)
Sedangkan lima investasi utama Jepang yang berada di Indonesia pada tahun 1998-2006 adalah mesin listrik dan elektronik senilai US$2,83 miliar, kendaraan dan peralatan transportasi US$1,64 miliar, industri mineral dan nonmetalik US$862 juta, kimia dan obat-obatan US$780 juta serta perdagangan dan reparasi US$661 juta. (sumber: www.KapanLagi.com).
Maka dapat disimpulkan bahwa walaupun dalam hal penguasaan negara dan perusahaan, bangsa Indonesia kalah jauh dibandingkan dengan bangsa Jepang, tetapi dalm hal export barang perdagangan ke luar negeri Indonesia jauh lebih unggul.
Selain dalam bidang perdagangan, industri, dan ekonomi, Jepang dan Indonesia pun masih memiliki hubungan erat bilateral yang tidak kalah penting. Yaitu dalam bidang kebudayaan dan bidang pendidikan. Dalam bidang pendidikan, negara Jepang banyak membuka lembaga – lembaga dan program – program beasiswa bagi para pelajar dan mahasiswa Indonesia yang berprestasi yang berkeinginan untuk melajutkan studi atau perkuliahan di negeri sakura tersebut tanpa biaya atau secara cuma-cuma, mengapa tanpa biaya ?. Karena seluruh beban biaya hidup dan akomodasi serta biaya kuliah disana sudah ditanggung oleh lembaga beasiswa tersebut. Dan salah satu lembaga beasiswa yang paling terkenal di Indonesia adalah (MONBUKAGAKUSHO) yang merupakan program beasiswa yang dikeluarkan oleh pemerintah Jepang di Indonesia. Sehingga jumlah mahasiswa Indonesia yang belajar ke Jepang meningkat setiap tahunnya. Karena berdasarkan data dari Kedutaan Besar Jepang hingga 1 Mei 2008, dari 1,791 orang Mahasiswa Indonesia yang belajar di Jepang sebanyak 1101 orang dengan biaya sendiri dan sisanya, 690 orang adalah Penerima Beasiswa pemerintah Jepang.
Untuk tahun 2009, 72 orang Mahasiswa Indonesia penerima beasiswa Kementerian Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Jepang telah diberangkatkan pada 1 April. (sumber: www.nusantara-news.com).
Penerima beasiswa dari pemerintah Jepang itu terdiri atas 48 mahasiswa program riset, empat orang program sarjana, 15 orang program setara D3 dan lima orang program setara D2.
Para penerima beasiswa selain dibebaskan dari uang kuliah juga mendapat tunjangan setiap bulan.
Berdasarkan angket atas biaya hidup mahasiswa asing terhadap biaya sendiri yang dibuat oleh JASSO bulan Maret 2005, diperoleh data bahwa sekitar 45% mahasiswa asing dengan biaya sendiri ini ditunjang dengan beasiswa yang besarnya rata-rata sekitar ¥53.000 per bulan. Dan menurut data Association for the Promotion of Japanese Language Education per Oktober 2006 sekitar 16,4% dari siswa lembaga pendidikan Bahasa Jepang mendapat beasiswa dengan besar sekitar ¥48.062 per bulan. (sumber : www. jasso.go.jp)
Dari seluruh mahasiswa asing yang saat ini belajar di Jepang, sekitar (86,7%) melajuntkan studi dengan biaya sendiri atau swadana, 1,7% biaya dari pemerintah masing-masing negara asal mahasiswa tersebut, dan sisanya 11,6% mendapat beasiswa dari Monbukagakusho. Dari total seluruh mahasiswa asing yang melanjutkan studi di Jepang, Indonesia menduduki peringkat keenam di bawah Cina, Korea, Taiwan, Malaysia, dan Thailand dengan jumlah sekitar 1.600 orang (1,8%). Dari jumlah ini semua sekitar 700 orang memperoleh beasiswa pemerintah Jepang (Monbukagakusho). Sedangkan yang lainnya dengan biaya sendiri atau dengan beasiswa swasta. Dari Indonesia sendiri, mayoritas mahasiswa yang dikirim pemerintah dengan beasiswa Monbukagakusho belajar dalam bidang rekayasa, pertanian, kedokteran, dan sains.
Sedangkan untuk hubungan bilateral antara Indonesia dan Jepang dalam bidang kebudayaan, kedua negara ini lebih banyak berkecimpung dalam pengenalan dan pertukaran budaya. Disamping itu, dibandingkan dengan Jepang negara Indonesia lebih banyak memiliki kebudayaan dan bahasa. Seperti contohnya bangsa Jepang relatif homogen, dan hanya memiliki sekitar 15 bahasa (bukan berarti Jepang hanya memiliki 15 suku bangsa, karena termasuk didalamnya adalah bahasa sign language untuk tuna rungu), dan bangsa Jepang telah memiliki sejarah yang jauh lebih panjang dibanding negara Indonesia, sehingga nilai-nilai budaya itu lebih mengkristal. Adapun bangsa Indonesia berciri heterogen, multi etnik, memiliki lebih dari 700 bahasa, sehingga tidak mudah untuk mencari serpih-serpih budaya yang mewakili Indonesia secara nasional. Perlu dipisahkan nilai-nilai mana yang diterima secara nasional di Indonesia, dan mana yang merupakan karakter unik salah satu suku yang ada. (sumber: www. asnugroho.wordpress.com).
Tetapi pada kenyataannya negara Indonesialah yang lebih banyak menyerap kebudayaan-kebudayaan dari negara samurai tersebut. Ada banyak seni kebudayaan dari bangsa Jepang yang masuk kedalam kehidupan sehari – hari terutama bagi anak – anak remaja di Indonesia seperti,
- origami (seni melipat kertas )
- Sudoku (seni permainan angka)
- Anime (seni serial film kartun jepang)
- Harajukun (seni berpakaian mode anak remaja jepang),
Dan masih banyak lagi seni – kebudayaan Jepang yang masuk kedalam kehidupan sehari – hari masyarakat Indonesia. Diantara keempat seni budaya dari bangsa Jepang tersebut ada satu seni budaya yang sangat populer di masyarakat Indonesia yaitu anime (seni serial kartun Jepang), seni tersebut merupakan seni menggambar bentuk manusia yang dilakukan oleh pengarang – pengarang di Jepang yang kemudian disebut sebagai gambar komik atau dalam bahasa Jepangnya adalah manga yang kemudian dibuat cerita yang diserialkan dan ditayangkan dalam layar televisi yang kemudian disebut anime. Di Indonesia banyak sekali masyarakatnya yang menyukai anime terutama anak – anak usia 4 tahun hingga remaja yang umurnya 20-30 tahun, hingga bahkan banyak diantara mereka yang membuat suatu perkumpulan atau komunitas sebagai pecinta anime, dari perkumpulan – perkumpulan tersebut serta hobby terhadap anime inilah mulai muncul kebudayaan Jepang yang lainnya di Indonesia yang disebut Harajuku (seni berpakaian mode anak remaja Jepang) dan cosplay (costume play) yang mulai terkenal di kalangan anak – anak muda di Indonesia.
Costum play atau yang biasa disebut dengan cosplay merupakan seni berpakaian anak muda Jepang yang pakaiannya meniru dari tokoh – tokoh di Jepang seperti artis – artis Jepang, grup band, penyayi, tokoh kartun anime, tokoh – tokoh besar didunia, dan ada yang bentuknya menyerupai bentuk hewan, serta ada kostum yang dibuat sendiri tanpa meniru penampilan dari artis – artis bangsa Jepang yang biasa mereka pakai dan mereka tampilkan di Harajuku. Sedangkan Harajuku merupakan seni berpakaian model – model anak Jepang yang sering mereka tampilkan di kawasan distrik jalan Harajuku, kostum – kostum yang mereka pakai merupakan kostum – kostum tiruan atau cosplay, di Indonesia budaya seperti ini cukup popular dan banyak digandrungi oleh anak – anak remaja Indonesia. Tidak sedikit anak – anak remaja di Indonesia yang memakai pakaian ala Harajuku setiap saat ada festival kebudayaan Jepang yang diadakan di Indonesia, bahkan tidak sedikit pula acara – acara festival di Indonesia yang khusus dibuat memang hanya untuk menampilkan gaya – gaya berpakaian ala cospay mereka, biasanya acara ini diadakan oleh komunitas – komunitas anak muda Indonesia yang memang memiliki hobby dan berkecimpung di dalamnya.
Di Indonesia, Jepang memang memiliki pengaruh yang sangat besar terutama dalam bidang industri, pendidikan, dan budaya. Dalam bidang industri Jepang memiliki peran aktif yang cukup besar dalam kemajuan industri dan dalam bidang pembangunan di Indonesia, dengan banyak dibukanya perusahaan – perusahaan asal Jepang di Indonesia yang berbanding lurus dengan semakin banyaknya lapangan pekerjaan yang dibuka dari perusahaan Jepang sehingga membantu meningkatkan taraf hidup masyarakat Indonesia. Pembangunan pabrik – pabrik asal Jepang ini sebenarya sudah dimulai dari sebelum Indonesia merdeka hingga sekarang. Sebenarnya tujuannya masih belum berubah, yaitu untuk menjajah dan mengeruk kekayaan alam dari Indonesia, hanya saja cara yang dilakukannya berbeda dengan cara yang dilakukannya saat menjajah Indonesia di masa yang lampau, cara di masa sekarang mereka melakukannya lebih halus dan lebih cerdik dengan berbagai macam muslihat.
Sebenarnya menurut pendapat saya sendiri, semua yang didapatkan bangsa Indonesia dari negara Jepang dalam hubungan bilateral ini, seperti beasiswa penuh ke negara Jepang, banyaknya dibuka lapangan pekerjaan untuk meningkatkan pendapatan per kapita Indonesia, pertukaran budaya Indonesia – Jepang adalah tidak sebanding dengan apa yang mereka dapatkan dari Indonesia, mungkin hanya beberapa persen dari hasil yang mereka dapatkan mereka berikan kepada Indonesia.
Dengan keadaan seperti ini, apakah bangsa Jepang dapat disebut sebagai kawan dengan semua yang mereka berikan untuk Indonesia ataukah sebagai lawan dengan semua yang mereka dapatkan dari bangsa Indonesia ?